Monthly Archives: May 2008

Permainan

“500 Permainan 5 menit”. Buku yang mengupas berbagai permainan yang mudah dan cepat untuk anak usia 3-6 tahun. Tapi, percayalah beberapa permainan yang ada di buku ini masih relevan diberikan tanpa terhalang batasan usia. Tertarik dengan judul dan isi-nya saya memutuskan meminjam buku ini dari PBA.

Saya mencoba memilah beberapa permainan. Kalau memungkinkan bisa dikaitkan dengan materi pembelajaran yang ada. Bagaimana kalau kita coba yang ini? :).

Melatih Pemahaman

Permainan ini akan kita bagi menjadi 2. Pertama, anak akan belajar memahami anggota tubuh mereka. Kedua, anak mengenal dan memahami perangkat komputer yang akan mereka gunakan. (Permainan ini dapat diberikan untuk siswa kelas 1 SD dan saat mereka belajar TIK pertama kali).

Tahap 1.

  1. Anak-anak dapat duduk dalam bentuk lingkaran. Atau berdiri membentuk barisan di tempat duduk mereka.
  2. Minta siswa menunjuk hidung.
  3. Minta mereka menunjuk pergelangan tangan.
  4. Selanjutnya minta mereka menyentuh hidung dan pergelangan tangan.
  5. Ulangi dengan anggota tubuh lainnya.

Tahap 2.

  1. Minta siswa menunjuk mouse.
  2. Minta siswa menunjuk keyboard.
  3. lalu mintalah agar mereka menyentuh mouse dan keyboard.
  4. Ulangi dengan menugaskan mereka menyentuh perangkat komputer lainnya.

Kegiatan ini dapat dilanjutkan dengan menyebutkan berbagai kegunaan perangkat komputer. Misalnya, “Benda apa yang bisa menampilkan teks dan gambar ya?” Segera minta anak-anak menunjuk dan menyebutkan benda yang dimaksud. Agar lebih menyenangkan, buatlah suasananya lebih santai. Bisa dengan cara bercerita atau mendongeng, mungkin? Yup, Anda tentu lebih tahu ;-). Variasi lainnya? Bagaimana kalau sekarang Anda meminta seorang anak sebagai leader dan menggantikan posisi Anda? Hup..hup.. gantian donk 😀

2 Mei

ing ngarso sung tulodo — di depan memberi teladan
ing madyo mangun karso — di tengah membangun karya
tut wuri handayani — di belakang memberi dorongan (Ki Hadjar Dewantara).

Guru, adalah sosok yang diharapkan dapat menjadi panutan bagi anak didik. Itu tentu. Maka ketika ada suatu kondisi dimana seorang guru melakukan penyimpangan, yang tercoreng namanya adalah semua guru dan institusi yang terkait di dalamnya. (walaupun semua generalisasi itu pasti salah, hm, saya setuju kalimat ini :). Saya tidak menampik kenyataan bahwa dalam praktiknya masih banyak ditemui guru-guru yang mengajar dan mendidik dengan cara-cara yang feodal. Dan bukan perkara mudah untuk mengubah kultur yang sudah turun temurun dan mendarah daging. Untuk mengubah kebiasaan tersebut tidak semudah membalik telapak tangan. Tentu akan banyak ditemui hambatan. Tidak saja dari komunitas guru itu sendiri tapi juga anak didik.

Semoga semua rintangan yang ada dapat kita lalui bersama. Guru, teruslah belajar, berubah setiap waktu menuju ke arah yang lebih baik. Selamat hari pendidikan nasional.

ps: Buat murid-murid saya yang akan mengikuti UAN hari senin, selamat belajar, jangan lupa berdoa. Semoga semuanya berjalan lancar.