Category Archives: Kelas XI

Game Brain vs Capital

Nah, supaya murid-murid tidak bosan, kali ini materi pembelajaran kewirausahaannya saya berikan melalui permainan. Untuk board game saya ambil dari sini. Nama permainannya adalah Brain vs Capital Game.

Game ini memang sebaiknya diberikan setelah siswa kita memiliki pengetahuan tentang design thinking dan model bisnis. Pada akhir permainan setiap kelompok akan menuliskan hasil permainan mereka yang dijabarkan dalam Kanvas Model Bisnis. Kanvas model bisnis bisa kita ganti dengan model bisnis Lean Canvas.

Oya, sebaiknya permainan ini disesuaikan dengan jenjang usia peserta. Jadi, untuk aplikasi ke murid, beberapa pertanyaan biasanya saya terjemahkan (bingung mencari padanan katanya, maksudnya supaya siswa mudah memaknai pertanyaan) secara sederhana agar mudah dipahami oleh mereka. Idealnya sih memang bikin sendiri pertanyaannya, tapi tak apalah, untuk percobaan pertama. Next time, kalau ibu gurunya udah lebih pintar dan punya waktu luang, bikin sendiri permainannya ya? πŸ™‚

Berikut adalah dokumentasi kegiatan dan hasil permainan tahap #1

Computational Thinking

Computational thinking hanya untuk programmer? Tentu saja tidak. Berpikir komputasi atau computational thinking adalah keterampilan yang sejatinya harus dimiliki semua orang. Menurut Dr. Ir. M.M. Inggriani, computational thinking adalah sebuah pendekatan dalam proses pembelajaran yang memiliki peran penting dalam pengembangan aplikasi komputer. Secara singkat, melalui Computational Thinking, kita dapat mengembangkan proses berpikir yang melibatkan bagaimana memformulasikan sebuah permasalahan beserta solusinya.

Untuk lebih mudahnya, berpikir komputasi adalah pendekatan proses belajar untuk melatih keterampilan berpikir runut, sistematis dan kreatif. Berpikir komputasi adalah keterampilan hidup yang dapat mempermudah hidup kita. Berbagai pendekatan menyelesaikan masalah dalam computational thinking bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, seperti membersihkan ruangan, bermain sudoku, merencanakan perjalanan dan lain-lain.

4 karakteristik dalam computational thinking adalah:

  1. Decomposition, memecah masalah yang lebih besar atau kompleks menjadi bagian-bagian yang lebih kecil atau sederhana.
  2. Pattern recognition, mencari atau menemukan pola/kesamaan antar masalah maupun dalam masalah tersebut.
  3. Abstraction, fokus pada informasi penting saja, dan mengabaikan detail yang kurang relevan.
  4. Algorithm, membangun langkah-langkah solusi terhadap masalah.

Dan karaketristik lain dari pemikiran komputasi adalah proses iterasi (pekerjaan yang berulang) “three As” yang didasarkan pada tiga tahap:

  1. Abstraction (Abstraksi): Problem formulation (Perumusan masalah);
  2. Automation (Otomasi): Solution expression (Ekspresi solusi);
  3. Analyses (Analisis): Solution execution and evaluation (Eksekusi dan evaluasi solusi).

Melalui pendekatan computational thinking maka kita dapat melihat proses atau tahapan berpikir seseorang. Mari kita berlatih πŸ™‚

Pertama, siswa menentukan masalah terlebih dahulu. Misalnya: Cara membersihkan ruangan. Terserah caranya, mulai dari mana dulu. Bisa dari menentukan definisi terlebih dahulu, scope (ruang lingkup), how to, target, dan lain-lain.

Cara membersihkan ruangan.

Untuk membersihkan ruangan maka kita harus memahami denifisi kata bersih. Bersih itu rapi, barang diletakkan di tempatnya, tidak ada kotoran, debu, atau bakteri, tidak ada barang tercecer atau tergeletak sembarangan. Ukuran ruangan yang ingin dibersihkan sebesar apa (scope), apakah seluas ruang keluarga, ruang makan, ruang tamu, atau ruang tidur. Kalau ruang tidur, apakah sendiri, atau berbagi dengan adik atau kakak. Berikutnya adalah (how to), apakah meminta tolong asisten rumah tangga, kakak/adik atau saudara untuk membersihkan, lalu membersihkannya bisa mulai dari barang yang kecil dahulu. Target untuk membersihkan ruangan 4 jam (seberapa lama?), dan ruangan sudah bersih, semua barang tertata apik dan berada di tempatnya serta wangi (seberapa bersih).

Dalam kasus dia atas, abstraksinya adalah masalah ruangan kotor. Oleh karena itu perlu dibersihkan. Ruangan berantakan karena barang-barang berserakan, maka perlu dibereskan. Analisis itu mengenali pola. Pola ruangan bersih seperti apa. Pola ruangan kotor seperti apa. Pattern recognition itu mengenali pola, yaitu pola bersih dan kotor.

Jangan khawatir, dalam proses ini tidak ada benar atau salah pun tidak perlu jawaban produk yang ingin dihasilkan. Berikut adalah beberapa karya siswa.

Pertemuan 9: Pengolahan Makanan #2018

Kelas: XI
Semester: Ganjil
TA: 2018-2019
Aspek: Pengolahan Makanan Khas Daerah

Kompetensi Dasar

3.5 Menganalisis laporan kegiatan usaha pengolahan makanan khas asli daerah (orisinil) dari bahan pangan nabati dan hewani

4.5 Menyusun laporan kegiatan usaha pengolahan makanan khas asli daerah (orisinil) dari bahan pangan nabati dan hewani

Pada pertemuan ini siswa dibekali pengetahuan dan pemahaman dasar mengenai bahasa pemrograman HTML5 dan CSS. Keterampilan HTML diberikan 3-4 kali pertemuan. Setiap kelompok akan mengedit toko online dengan menggunakan aplikasi blogger.Β  Sebagai gambaran, contoh toko online karya siswa yang paling baik dan lengkap semua fitur-fiturnya, silakan klik di sini.

Hasil kegiatan usaha produk mereka dilaporkan dalam bentuk buku jurnal harian offline.

Berikut adalah toko online karya siswa. Klik langsung pada nama perusahaan untuk melihat karya mereka.

Kelas XI MIPA 1

  1. Pallayum
  2. Sakafoodies

Kelas XI MIPA 2

  1. Savory

Bazar dan Pameran

Puncak dari semua tahapan pembelajaran mapel PKWU yaitu bazar dan pameran. Rencananya, saya ingin memasukkan program Entrepreneur day di setiap akhir semester (atau setiap tahun. Masih dipertimbangkan dahulu πŸ™‚ ). Tujuan acara Enterpreneur day ini untuk menampilkan baik produk jadi (untuk aspek: kerajinan, budidaya, dan pengolahan) serta prototipe produk (untuk aspek rekayasa) yang telah dipersiapkan siswa dalam satu semester.

Dalam pameran ini akan ditampilkan seluruh tahapan belajar PKWU yang bisa diwakili oleh satu kelompok di satu stand pameran untuk setiap kelas. Tentu disertai produk mereka juga (baik yang dimaksudkan untuk dipamerkan dan juga dijual).

Selepas bazar maka setiap kelompok menuntaskan laporan keuangan dan mengumpulkan laporan evaluasi kegiatan usaha sebagai penutup mata pelajaran PKWU di semester ganjil.

Berikut ini adalah suasana kegiatan entreprenur day yang telah dilaksanakan di lingkungan sekolah pada hari Jumat tanggal 30 November 2018. Kegiatan diikuti oleh siswa kelas X dan XI.

Pertemuan 8: Pengolahan Makanan #2018

Kelas: XI
Semester: Ganjil
TA: 2018-2019
Aspek: Pengolahan Makanan Khas Daerah

Kompetensi Dasar
3.3 Memahami perhitungan titik impas (Break Even Point) usaha pengolahan makanan khas asli daerah (orisinil) dari bahan pangan nabati dan hewani

4.3 Menghitung titik impas (Break Even Point) usaha pengolahan makanan khas asli daerah (orisinil) dari bahan pangan nabati dan hewani

Break Even Point (BEP) atau Titik impas adalah istilah ekonomi yang menunjukkan kapan total keuntungan sebuah usaha setara atau sama dengan modal yang telah dikeluarkan. BEP menjadi penting karena titik ini bisa menunjukkan mulai kapan usaha kita memberikan keuntungan yang sesungguhnya.

Untuk menghitung BEP, maka harus ditentukan dahulu biaya tetap dan biaya variabelnya.

Biaya tetap (Fixed cost) menurut Wikipedia adalah pengeluaran bisnis yang tidak bergantung pada tingkat barang atau jasa yang dihasilkan oleh bisnis tersebut. Pengeluaran ini berkaitan dengan waktu, seperti gaji atau beban sewa yang dibayar setiap bulan, dan sering disebut sebagai pengeluaran tambahan.
Contohnya biaya sewa lahan, pembelian alat produksi, biaya gaji karyawan, dll

Sementara Biaya variabel adalah biaya yang berubah secara proporsional dengan aktivitas bisnis. Biaya variabel adalah jumlah biaya marjinal terhadap semua unit yang diproduksi. Hal ini juga dapat dianggap biaya normal.
Contohnya biaya bahan baku, ongkos kerja, dan biaya lain yang diperlukan untuk memproduksi barang.
Biaya variabel dihitung per satuan item barang yang diproduksi.

Jumlah kedua biaya (fixed cost dan variable ost) disebut Total biaya.

Kemudian barang yang diproduksi tersebut dijual dan semua hasil penjualan barang dimasukkan ke dalam Total Pendapatan (Total Revenue).

Keadaan dimana total hasil penjualan (Total Revenue) sama dengan total biaya (Total Cost) inilah yang disebut Break Even Point (BEP). Jika Total Revenue lebih besar dari Total Cost maka akan diperoleh Laba.

Dengan asumsi Pendapatan Total (TR) adalah sama dengan Biaya total (TC) maka perhitungan BEP berdasarkan unit dapat diturunkan melalui turunan rumus berikut:

TR=TC
P*X=TFC+V*X
P*X-V*X=TFC
(P-V)*X=TFC
X=TFC/P-V

Keterangan:
TR: Pendapatan total (Total Revenue)
P: Harga per unit (jual)
X: Jumlah (unit)
TC: Biaya total (Total Cost)
TFC: Total biaya tetap (Total Fixed Cost)
V: Biaya variabel per unit (produksi)

Contoh: Menghitung usaha kue onde-onde.
Modal awal yang dibutuhkan 500 ribu. Ongkos produksi untuk setiap 1 item kue onde-onde adalah Rp5.000 (termasuk biaya bahan baku, ongkos kerja, dan lain-lain). Harga jual onde-onde 8000 per satuan. Maka perhitungan BEP usaha adalah:

BEP (unit): X = TFC / (P – V)
=Rp 500.000 / (Rp8.000 – Rp5.000) = 167 unit (1 item kue ondel-ondel)

Lama waktu yang diperlukan untuk BEP tergantung dari frekuensi penjualan. Jika rata-rata terjual 15 kue ondel-ondel per hari maka waktu yang dibutuhkan adalah= 167/15=11 hari.

Sementara omzet yang harus diperoleh untuk BEP adalah= jumlah unit barang dikali harga jual.
BEP (rupiah)= 167 * Rp 8000 = Rp1.336.000

Untuk menghitung jumlah omzet saat BEP tanpa menghitung jumlah unit dahulu, maka rumusnya adalah sebagai berikut:

Rumus BEP berdasarkan nilai (harga)
BEP nilai= FC/1-VC/P

Keterangan:
FC: Biaya Tetap
P: Harga jual per unit
VC: Biaya Variabel per unit

BEP(nilai) = 500.000 / (1-[5000/8000])
= 500.000 / (1-0,625)
= 1.333.333

Sumber:
http://www.cara.aimyaya.com/2014/10/cara-menghitung-bep-titik-impas-usaha-bisnis.html

Pertemuan 7: Pengolahan Makanan #2018

Kelas: XI
Semester: Ganjil
TA: 2018-2019
Aspek: Pengolahan Makanan Khas Daerah

Kompetensi Dasar
3.4 Menganalsisi strategi promosi usaha pengolahan makanan khas asli daerah (orisinil) dari bahan pangan nabati dan hewani

4.4 Melakukan promosi produk usaha pengolahan makanan khas asli daerah (orisinil) dari bahan bahan pangan nabati dan hewani

KD 3.3 dilewatkan dahulu ya, karena saya belum menugaskan siswa untuk mengolah makanan. Catatan keuangan baru sebatas biaya yang mereka keluarkan untuk kegiatan harian. Jadi, lanjut ke tahapan kewirausahaan berikutnya yaitu strategi promosi usaha.

Pada pertemuan ini setiap kelompok akan membuat toko online dengan menggunakan mesin blogger. Toko online tentu saja tidak dibangun dari awal. Siswa cukup menyesuaikan tampilan theme sesuai dengan lebutuhan toko online mereka nantinya. Namun tentu saja untuk mengedit theme toko online diperlukan pengetahuan pemrograman web berupa HTML 5 dan CSS. Oleh karena itu untuk kelas XI akan diberikan materi HTML5 dan CSS (dan Javascript). Selajutnya mereka akan membuat blog toko online di blogger. Pengetahuan pemrograman web diberikan kurang lebih 4-5 kali pertemuan.

Berikut ini adalah beberapa contoh toko online karya kakak kelas mereka. Klik link untuk melihat.
1. RJ
2. Clothero
3. Sayur Sehat
4. Sevourigan
5. Toko Cicak
6. Onemistsshop

Yang ini karya gurunya, silakan klik di sini untuk melihat πŸ™‚

Pertemuan 6: Pengolahan Makanan #2018

Kelas: XI
Semester: Ganjil
TA: 2018-2019
Aspek: Pengolahan Makanan Khas Daerah

Kompetensi Dasar
3.2 Menganalsis sistem pengolahan makanan khas asli daerah (orisinil) dari bahan pangan nabati dan hewani berdasarkan daya dukung yang dimiliki oleh daerah setempat

4.2 Pengolahan, pengemasan, dan pengawetan makanan khas asli daerah (orisinil) dari bahan pangan nabati dan hewani berdasarkan konsep berkarya dengan pendekatan budaya setempat dan lainnya

Pada pertemuan ini setiap kelompok membuat sistim pengolahan makanan yang akan diolah dalam bentuk grafis. Pada sistim pengolahan makanan diuraikan alat dan bahan yang diperlukan serta teknik atau prosedur pengolahan makanan tersebut.

Pada tahap selanjutnya, produk makanan tersebut akan dijual dalam kegiatan Entrepreneur Days (yang rencananya akan diadakan berbarengan dengan kegiatan class meeting).

Berikut adalah tugas pembuatan sistim pengolahan makanan dalam bentuk grafis.




Ulangan Design Thinking

Berbarengan dengan tugas saya mendampingi tim PKWU yang berhasil mewakili DKI Jakarta untuk mengikuti lomba Fiksi Kewirausahaan di Yogyakarta pada tanggal 1-6 Oktober 2018, maka saya memberikan tugas individu kepada murid-murid saya untuk membuat design thinking. Tugas ini bertujuan untuk melihat pemahaman mereka mengenai tahapan-tahapan yang ada pada design thinking.

Setiap siswa mencari masalah yang ada di lingkungan mereka dan mencarikan solusinya. Berikut adalah beberapa hasil pekerjaan mereka.

Kelas X dan XI






Pertemuan 5: Pengolahan Makanan #2018

Kelas: XI
Semester: Ganjil
TA: 2018-2019
Aspek: Pengolahan Makanan Khas Daerah

Kompetensi Dasar
3.1 Memahami perencanaan usaha pengolahan makanan khas asli daerah (orisinil) dari bahan pangan nabati dan hewani meliputi ide dan peluang usaha, sumber daya, administrasi, dan pemasaran

4.1 Menyusun perencanaan usaha pengolahan makanan khas asli daerah (orisinil) dari bahan pangan nabati dan hewani meliputi ide dan peluang usaha, sumber daya, administrasi, dan pemasaran

Pada pertemuan ini setiap kelompok membuat rencana bisnis. Rencana bisnis dijabarkan dalam model bisnis Lean Canvas.
Berikut adalah tugas siswa pembuatan rencana bisnis untuk produk pengolahan makanan tradisional.

Pertemuan 4: Pengolahan Makanan #2018

Kelas: XI
Semester: Ganjil
TA: 2018-2019
Aspek: Pengolahan Makanan Khas Daerah

Kompetensi Dasar
3.1 Memahami perencanaan usaha pengolahan makanan khas asli daerah (orisinil) dari bahan pangan nabati dan hewani meliputi ide dan peluang usaha, sumber daya, administrasi, dan pemasaran

4.1 Menyusun perencanaan usaha pengolahan makanan khas asli daerah (orisinil) dari bahan pangan nabati dan hewani meliputi ide dan peluang usaha, sumber daya, administrasi, dan pemasaran

Pada pertemuan ini siswa membuat prototipe produk pengolahan makanan yang telah mereka tentukan pada desain thinking. Prototipe dibuat dalam bentuk 3D mockup dengan menggunakan berbagai bahan seperti clay, playdough, bubur kertas, dan lain-lain. Prototipe produk disertai dengan kemasannya diposting di akun IG beserta deskripsi produk, nama anggota dan kelas.

Berikut adalah karya siswa

View this post on Instagram

▶Kang Rama, a traditional food company 🍴◀ β˜…β˜…β˜…β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β˜…β˜…β˜… 🔊 Hai! Ketemu lagi, nih dengan kami. Kali ini kami akan menampilkan prototype dari produk yang akan kami produksi, yaitu coMel dan misQueen, serta kemasan yang akan digunakan. Jadi yang di atas ini adalah produk kami, yaitu coMel Β«comro MillenialΒ», #ComronyaParaMillenial. coMel tidak akan seperti comro pada umumnya, karena coMel menggunakan isi-isian yang cocok di lidah kaum millenial, seperti sosis, smoked beef, telur asin, dan masih ada varian lainnya. Tapi jika kalian adalah #TeamComroOriginal, kalian tidak perlu takut karena kami juga menyediakan rasa Original. Apakah kalian #CheeseLovers?Jika iya, kami juga menyediakan coMell (double L) Β«comro MellerΒ», yaitu coMel yang diberi topping tambahan berupa keju mozzarella dan parutan keju cheddar. Prototype yang kami tampilkan diatas ini adalah coMel isi sosis-mayo dan coMel isi smoked beef-telur dengan topping saus sambal dan mayo. Bagaimana menurut kalian? Jika kalian memiliki kritik, saran, komentar, ataupun pertanyaan, jangan ragu untuk memberitahu kami di kolom komentar di bawah ini, yaa… 👍 — @enggard

A post shared by KangRama.id β€” XI IPA 1 (@kangramaid) on

View this post on Instagram

First prototype look. @enggard

A post shared by Kue Pancong Oke (@kucong_oke) on