Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa (PBKB)

Pagi ini saya membaca file Pengembangan Pendidikan Budaya dan karakter Bangsa, yang dikirimkan oleh editor saya. Rancangan PBKB ini diluncurkan oleh kementerian Pendidikan Nasional yang menargetkan penyempurnaan program pendidikan.

Tak dapat diabaikan bahwa perbuatan baik bersumber dari budi pekerti yang juga baik. Perbuatan baik akan mempunyai arti ketika selaras dengan nilai-nilai yang berlaku dalam budaya (bangsa). Atau mengutip kata pengantar dalam PBKB, “Karakter bangsa Indonesia adalah karakter yang dimiliki warga negara bangsa Indonesia berdasarkan tindakan-tindakan yang dinilai sebagai suatu kebajikan berdasarkan nilai yang berlaku di masyarakat dan bangsa Indonesia. Oleh karena itu, Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa diarahkan pada upaya mengembangkan nilai-nilai yang mendasari suatu kebajikan sehingga menjadi suatu kepribadian diri warga negara.”

Jadi, PBKB atau Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa ini adalah sebuah pikiran yang bersifat praktis dan diharapkan dapat dilaksanakan dalam suasana pendidikan yang berlangsung di sekolah saat ini. Pelaksanaan PBKB dalam poses pembelajaran di sekolah tidak mengubah kurikulum yang berlaku tetapi sebaliknya menghendaki sebuah sikap dan ketrampilan baru dari semua staf pendidik yang berlangsung secara terus menerus.

Apa perbedaan materi ajar dengan materi PBKB?
materi ajar bersifat ‘mastery’, sebaliknya materi PBKB bersifat ‘developmental’. Artinya, materi PBKB menghendaki sebuah proses pendidikan yang cukup panjang dan saling menguatkan antara kegiatan belajar dengan kegiatan belajar lainnya, antar proses belajar di kelas dengan kegiatan kurikuler di sekolah dan di luar sekolah.

Oleh karenanya diperlukan sikap menyukai, ingin memiliki dan mau menjadikan nilai-nilai tersebut sebagai dasar bagi tindakan dalam perilaku kehidupan peserta didik sehari-hari merupakan persyaratan awal yang mutlak untuk keberhasilan Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa.

Proses pembelajaran Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa dilaksanakan melalui proses belajar aktif. Sesuai dengan prinsip pengembangan nilai harus dilakukan secara aktif oleh peserta didik (dirinya subyek yang akan menerima, menjadikan nilai sebagai miliknya dan menjadikan nilai-nilai yang sudah dipelajarinya sebagai dasar dalam setiap tindakan) maka posisi peserta didik sebagai subyek yang aktif dalam belajar adalah prinsip utama belajar aktif. Oleh karena itu, keduanya saling memerlukan. (sumber: PBKB, Kata Pengantar)

Berikut ini adalah
INDIKATOR KEBERHASILAN SEKOLAH DAN KELAS DALAM
PENGEMBANGAN PENDIDIKAN BUDAYA DAN KARAKTER BANGSA

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *