Saran atas Hilangnya TIK di Kurikulum 2013

Terlebih dahulu tulisan ini bukan bertujuan untuk menolak kurikulum 2013. Dan juga bukan dimaksudkan sebagai aksi untuk menentang dihapuskannya mata pelajaran TIK dari kurikulum 2013. Barangkali sedikit cerita di bawah ini dapat membuka wawasan kita.

Di sebuah harian online, tepatnya di sini, dikisahkan bahwa menteri pendidikan nasional Inggris sedang melakukan revolusi besar-besaran sehubungan dengan mata pelajaran Teknologi Informasi dan Komunikasi. Mengapa? Menurut Gove, mengutip dari berita harian tersebut,”kurikulum ICT yang digunakan di sekolah-sekolah Inggris saat ini sebagai ‘tidak memicu motivasi dan membosankan’ karena para siswa belajar pada ketrampilan digital mendasar, seperti word processing atau perangkat lunak untuk menulis.”

Pembelajaran seperti di atas hanya melahirkan generasi pengguna. Sedangkan kita tahu bahwa anak-anak belajar dengan cepat untuk menggunakan sebuah aplikasi. Maka tidak heran jika kemudian sebagian orang berpikir bahwa pelajaran TIK di sekolah tidak perlu ada.

Kembali pada kisah di atas, apakah yang kemudian dilakukan menteri pendidikan nasional Inggris itu? Alih-alih menghapus mata pelajaran TIK di sekolah ia menawarkan 50 beasiswa senilai £20.000 untuk pelatihan guru ICT pada tahun pertama dengan sasaran awal sebanyak 500 guru. Para sarjana yang boleh mengajukan diri untuk bea siswa adalah yang memahami konsep-konsep komputer, seperti algoritma, logika, jaringan data, dan internet.

Gove mengharapkan agar para murid belajar tentang kode komputer sehingga mampu menghasilkan animasi yang sederhana atau membuat aplikasi untuk telepon pintar mereka.

Singkatnya, Cove ingin negaranya menghasilkan generasi pencipta (dan bukan sekedar pemakai aplikasi), seperti Mark Zukenberg penemu facebook, Larry dan Sergey penemu Google, dan lain-lain. Ia berharap akan banyak tumbuh para pengembang aplikasi. Dengan demikian kewirausahaan pun akan terangkat naik yang selanjutnya memajukan ekonomi negara itu sendiri.

Dan Inggris sudah memulainya. Memasuki awal tahun 2013 sekolah-sekolah di Inggris mendapat bantuan sebuah komputer bernama Raspberry. Komputer mini untuk anak belajar berkreasi.
raspberry
Informasi lengkap mengenai Raspberry bisa dibaca di sini. Komputer ini bisa dioprek (apa ya bahasa Indonesianya dioprek? ^-^. Pembelajaran ICT di Inggris memulai era baru dengan TIK Sains-nya.

Saya tiba-tiba teringat dengan kurikulum 2013 yang mengedepankan Sains, karena sains mengambil tema sentral untuk semua mata pelajaran. Sayangnya, mendikbud lebih memilih menghapus mata pelajaran TIK dibanding melakukan perubahan kurikulum TIK dengan pendekatan TIK Sains.

Guru memang bukan segalanya, mereka hanyalah pembuka jalan. Kisah Thomas Suarez, seorang anak laki-laki berumur 12 tahun yang menjadi pengembang aplikasi mungkin bisa menjadi tambahan bacaan yang menarik. Atau kisah remaja yang berusia 17 tahun dan aplikasinya dibeli yahoo di sini.

Sedikit cerita di atas mungkin bisa menjadi pertimbangan di dalam penghapusan mata pelajaran TIK. Pelatihan guru TIK serta perubahan kurikulum untuk mata pelajaran TIK barangkali bisa menjadi solusi yang dapat dipikirkan kembali.

Negara-negara maju sangat menghargai kemajuan teknologi dan pendidikan. Mengutip kalimat Presiden Finlandia bahwa negara yang maju adalah mereka yang mengutamakan pendidikan. Maka, segala kebijakan mengenai pendidikan sepatutnya mengedepankan kepentingan anak didik dan bukan dilandasi oleh kepentingan politis apapun.

1 thought on “Saran atas Hilangnya TIK di Kurikulum 2013

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *